Sabtu, 05 Oktober 2013

PERILAKU KONSUMEN

PENGEMBANGAN PASAR TRADISIONAL BERBASIS
PERILAKU KONSUMEN
 
PENDAHULUAN
            Semarang dengan jumlah penduduk lebih dari 1,4 juta jiwa, merupakan pasar yang potensial bagi peritel nasional maupun peritel asing. Banyaknya jumlah penduduk merupakan factor utama berhasil tidaknya pasar ritel. Pasar Tradisional sebagai salah satu pasar ritel adalah symbol perekonomian rakyat. Nilai guna pasar tradisional sangat urgen bagi masyarakat bawah, karena terdapat puluhan ribu orang rayat kecil (pedagang) yang menggantungkan biaya hidupnya, sumber kehidupannya.
            Pasar modern di kota Semarang tumbuh dengan pesat. Disatu sisi perkembangan pasar modern menimbulkan suatu kekhawatiran akan menggeser posisi pasar terdisional. Disisi lain kehadiran pasar modern dirasa lebih menguntungkan konsumen karena memunculkan berbagai alternative untuk berbelanja dengan fasilitas yang menyenangkan. Pasar modern berhasil menagkap kebutuhan konsumen, mampu memenuhi keinginan serta selera konsumen, sementara pasar terdisional lambat merespon perubahan perilaku berbelanja konsumen yang semakin dinamis. Akibatnya, perilaku berbelanja konsumen pun ikut berubah dan mulai berpaling ke pasar modern.
Dengan semakin pesatnya perkembangan pasar modern mengindikasikan munculnya berbagai masalah di pasar tradisional. Indikasi ini terlihat ketika konsumen berlari meninggalkan pasar tradisional dan beralih ke pasar modern. Ketika pedagang merasa omset penjualannya semakin lama semakin turun.
Pedagang pasar tradisional harus bersedia berbenah diri agar tetap survive, dapat berkembang, dapat bersaing dan tidak ditinggalkan konsumennya. Para pedagang pasar tradisional perlu melakukan introspeksi diri dengan melihat apakah selama ini pedagang telah memahami keinginan konsumen ataukah belum.
Masalah Penelitian :
1)      Apa yang dipertimbangkan konsumen sehingga memutuskan berbalanja di pasar tradisional maupun modern?
2)      Variabel apa yang menyebabkan konsumen cenderung berbelanja dipasar tradisional?
3)      Variabel apa yang menyebabkan konsumen dipertimbangkan konsumen berbelanja dipasar modern?
4)      Variabel apa yang sama-sama dipertimbangkan konsumen berbelanja di pasar modern maupun tradisional?
 
LANDASAN TEORI
Perilaku Konsumen
            Menurut A. Abdurahman (1973), Konsumen adalah seseorang yang menggunakanatau memakai atau mengkonsumsi barang dan jasa, bukan seseorang yang menyebarkan atau mendistribusikan atau menghasilkannya. Menurut Basu Swasta dan Hani Handoko (1997), Perilaku Konsumen adalah akativitas individu yang secara langsung terlibat untuk mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.
Pasar Tradisional
          Pasar adala orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk belanja, dan kemauan untuk membelanjakannya (Basu Swasta, 1995).
        Dalam lingkup pasar tradisional sebagai pasar pemerintah terdapat 3 pelaku utama yang terlibat dalam aktivitas sehari-hari, yaitu penjual, pembeli dan pegawai/pejabat dinas pasar (Riasto Widiatmini, Jurnal Bisnis Strategi, 2006).
Ciri-ciri Pasar Tradisional
1.   Dalam pasar tradisional tidak berlaku fungsi-fungsi manajemen : Planning, Organizing, Actuating, dan controlling.
2.      Tidak ada konsep Marketing, yaitu : bahwa pembeli adalah raja, penentuan harga berdasarkan perhitungan harga pokok ditambah keuntungan tertentu, produk berkualitas dan tempat penjualan yang nyaman bagi pembeli.
Sedangkan Penjual Pasar Tradisional biasanya mempunyai ciiri :
1.      Tempat jualannya kumuh, sempit, tidak nyaman, dan gelap.
2.      Penampilan penjualannya tidak menarik.
3.      Cara menempatkan barang dagangan tanpa konsep marketing.
Adapun Pembeli Pasar Tradisional mempunyai ciri :
1.      Rela berdesak-desakan ditempat yang tidak nyaman
2.      Tidak peduli dengan lalu-lalang pembeli lainnya.
3.      Pembeli pasar tradisional biasanya menguasai dan mengenal pasar tersebut terutama masalah harga, karena bila tidak tahu, harga komoditas bisa dua atau tiga kali lipat.
Pasar Swalayan atau Modern
            Pasar swalayan atau Modern merupakan media yang menjual berbagai barang kebutuhan secara kompleks, baik kelontong maupun produk lainnya. Bahkan akhir-akhir ini, pasar swalayan menjadi suatu media yang mengagumkan dalam menarik atau mengubah image belanja konsumen.
Ciri-ciri Pasar Modern :
1.      Kelangkaan pasar modern menjadikan sangat efisien karena para konsumen melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pramuniaga secara pribadi melayani konsumen berbelanja.
2.      Mempunyai penataan ruang yang membuat nyaman para pembeli
3.      Pelanggan sendiri yang melakukan pembelian, memilih barang sesuai keinginan dan mengisi keranjang belanja yang dibawa serta.
4.      Pasar modern lebih mencerminkan industrialisasi jasa.
Kerangka Penelitian
            Penelitian ini mengkaji factor-faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan berbelanja di pasar tradisional di tinjau dari persepsi pedagang dan konsumen. Variabel yang menjadi pertimbangan ini diambil dari model Perilaku Konsumen Assael (1992) dan kemudian dikembangkan oleh peneliti, yang meliputi variabel yang berasal dari Internal Konsumen, dari ekstenal konsumen serta berasal dari pasar tradisional itu sendiri.
            Selanjutnya di identifikasi factor-faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memutuskan berbelanja di pasar modern. Terdapat 60 variabel yang diteliti, kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan hasil sebelumnya, yaitu pertimbangan konsumen memilih pasar tradisional. Hasil penelitian akan dapat teridentifikasi variabel yang membedakan konsumen memiih berbelanja di pasar tradisional dan modern, serta teridentifikasi kecenderungan konsumen memilih berbelanja dipasar modern atau tradisional.



METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel
            Penelitian ini mengambil sembilan pasar tradisional dan modern di kota Semarang. Sedangkan populasi target adalah konsumen dan para pedagang yang berjualan di pasar terpilih. Pasar Modern yang diteliti meliputi hypermarket, supermarket serta minimarket. Penentuan pasar modern didasarkan atas lokasi yang letaknya paling dekat dengan pasar tradisional. Responden pasar tradisional berjumlah 355 pedagang dan 339 konsumen, sedangkan responden pasar modern berjumlah 324 konsumen.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tujuan khusus pertama dari penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi pedagang mengenai faktor-faktor yang menjadi pertimbangan konsumen berbelanja di pasar tradisional. Untuk menjawab tujuan ini dipergunakan alat statistik analisis faktor dibantu program SPSS.
Pada penelitian ini diuji 60 variabel. Hasil analisis faktor terhadap keenam puluh variabel menunjukkan Bartlett’s test of sphericity mempunyai tingkat signifikansi 0,00 sehingga analisis faktor boleh dipakai pada penelitian ini. Selanjutnya masing-masing variabel diuji MSA nya dan ternyata tidak ada variabel yang mempunyai MSA dibawah 0,5 sehingga keenampuluh variabel memenuhi syarat untuk dilakukan analisis faktor.
Berdasarkan nilai eigenvalue yang lebih besar dari 1, terdapat 15 faktor yang terbentuk dan besarnya kumulatif variance adalah 64,81%. Ini artinya total kelimabelas faktor akan dapat menjelaskan 64,81% dari variabilitaske 60 variabel asli tersebut. Kelimabelas faktor yang terbentuk kemudian dirotasi dengan mempergunakan metode varimax. Kelimabelas faktor hasil rotasi kemudian diberi nama sesuai dengan variabel yang tercakup didalamnya , dimana variabel-varibel tersebut telah dirangking berdasarkan urutan faktor loading terbesar. Urutan factor loading dari yang terbesar akan menunjukkan urutan korelasi dari yang tinggi dari suatu variabel terhadap faktornya.
Persepsi konsumen mengenai faktor-faktor yang menyebabkan konsumen
mempertimbangkan berbelanja di pasar tradisional.
Sebagaimana telah disebutkan, tujuan khusus kedua dari penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi konsumen mengenai faktor-faktor yang menyebabkan konsumen memutuskan berbelanja di pasar tradisional.
Hasil analisis faktor terhadap keenam puluh variabel yang diuji menunjukkan Bartlett’s test of sphericity mempunyai tingkat signifikansi 0,00, dan nilai MSA masing-masing variabel dibawah 0,5. Berdasarkan nilai eigenvalue yang lebih besar dari 1, terdapat 17 faktor yang terbentuk dan besarnya kumulatif variance adalah 66,167 %. Ini artinya total ketujuhbelas faktor akan dapat menjelaskan 66,167 % dari variabilitas ke 60 variabel asli tersebut.
Perbedaan persepsi pedagang dan konsumen mengenai faktor-faktor yang menyebabkan konsumen memutuskan berbelanja di pasar tradisional
Tujuan khusus ke tiga dari penelitian ini adalah mengidentifikasi perbedaan persepsi pedagang dan konsumen mengenai faktor-faktor yang menyebabkan konsumen memutuskan berbelanja di pasar tradisional. Indentifikasi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah pedagang telah mengetahui apa yang diinginkan konsumennya ataukah tidak. Untuk menjawab tujuan ini dipergunakan alat statistik analisis Diskriminan.Hasil analisis Diskriminan menunjukkan bahwa terdapat 16 variabel yang membedakan persepsi pedagang dan konsumen mengenai faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan konsumen memutuskan berbelanja di pasar tradisional. Secara urut variabel – variabel tsb terangkum dalam tabel 1.
 


Tabel 1

Variabel pembeda persepsi pedagang dan konsumen
NO
NAMA VARIABEL
NILAI LOADING
Urutan factor menurut Pedagang
Urutan factor menurut Konsumen
1
Berharap ada fasilitas Pembayaran
0,419
1
17
2
Tidak tersedia berbagai fasilitas
0,401
1
-
3
Ke pasar bukan karena ada iklan
0,384
1
4
4
Ke pasar tradisional bukan karena pasar menjual produk impor
0,341
1
-
5
Gaya Hidup
0,300
4
3
6
Terpengaruh pembicaraan orang lain
0,297
13
4
7
Fasilitas parker
0,281
6
12
8
Mutu
0,265
7
-
9
Harga Murah
0,250
3
10
10
Kondisi fisik pasar
0,231
2
1
11
Tidak ada kejelasan harga
0,202
-
14
12
Penanganan keluhan
0,194
6
-
13
Belanja sesuai rencana
0,128
10
-
14
Lokasi dekat
0,090
3
8
15
Tidak dibohongi
0,051
7
7
16
Tidak ada pertimbanganan pendidikan
0,007
4
16



Persepsi konsumen mengenai faktor-faktor yang menyebabkan konsumen

memutuskan berbelanja di pasar modern.
Hasil analisis faktor terhadap keenam puluh variabel menunjukkan Bartlett’s test of sphericity mempunyai tingkat signifikansi 0,00 dan tidak ada variabel yang mempunyai MSA dibawah 0,5. Berdasarkan nilai eigenvalue yang lebih besar dari 1, terdapat 17 faktor yang terbentuk dan besarnya kumulatif variance adalah 67,220%. Ketujuhbelas faktor yang terbentuk kemudian dirotasi dengan mempergunakan metode varimax.
Variabel yang membedakan konsumen berbelanja di pasar modern dan pasar
tradisional
Hasil analisis Diskriminan menunjukkan bahwa terdapat 18 variabel yang membedakan konsumen memutuskan berbelanja di pasar modern dan pasar tradisional, Secara urut variabel – variabel tsb terangkum dalam tabel 2.
Tabel 2
Variabel yang membedakan Konsumen berbelanja di pasar modern dan pasar internasional
NOMOR
NAMA VARIABEL
NILAI LOADING
1
Kejelasan Harga
0,589
2
Tidak becek
0,559
3
Bersih dan Tidak Bau
0,557
4
Ber AC
0,545
5
Keamanan
0,404
6
Harga Pas
0,368
7
Konsis fisik bangunan
0,290
8
Harga Murah
0,277
9
Fasilitas pembayaran
0,260
10
Promosi
0,250
11
Iklan
0,220
12
Cari Hiburan
0,200
13
Dilayani langsung
0,191
14
Kenyamanan
0,166
15
Memenuhi Kebutuhan
0,144
16
Prestise
0,067
17
Tidak dijual di pasar tradisional
0,044
18
Pendidikan
0,003
Nilai loading menunjukkan kontribusi setiap variabel untuk membentuk fungsi diskriminan atau relatif pentingnya masing-masing variabel di dalam membedakan kedua kelompok, yakni kelompok konsumen pasar modern dan kelompok konsumen pasar tradisional. Dari hasil nilai loading maka variabel Kejelasan harga merupakan variabel yang paling membedakan, disusul kemudian Tidak becek dan seterusnya seperti ditunjukkan dalam tabel 5 diatas.
Dari 18 variabel yang membedakan konsumen memilih pasar modern ataukah pasar tradisional, kemudian dapat dikelompokkan variabel mana yang lebih cenderung dipertimbangkan di pasar modern dan mana yang lebih cenderung dipertimbangkan di pasar tradisional. Secara rinci pengelompokkan tersebut terangkum dalam tabel 3 berikut :
Tabel 3
Pengelompokan Variabel Pembeda
Pasar Modern
Pasar Tradisional
1.      Kejelasan Harga
1       Harga bisa di tawar
2       Tidak Becek
2.     Harga Murah
3       Bersih dan tidak bau
3.     Dilayani langsung
4       Ber AC
4.     Memenuhi kebutuhan sehari-hari
5       Keamanan
6       Kondisi fisik bangunan
7       Fasilitas Pembayaran
8       Promosi
9       Iklan
10   Cari Hiburan
11   Kenyamanan
12   Prestise
13   Tidak dijual di pasar tradisional
14   Pendidikan Konsumen
Dari tabel 6 diatas terlihat variabel-variabel yang membedakan kecenderungan konsumen berbelanja di pasar modern serta kecenderungan berbelaja di pasar tradisional. Terdapat empatbelas variabel yang membuat konsumen cenderung berbelanja di pasar moden serta terdapat empat variabel yang membuat konsumen cenderung berbelanja di pasat tradisional.
  
KESIMPULAN

§  Terdapat lima belas faktor yang dipertimbangkan konsumen untuk memutuskan berbelanja di pasar tradisional menurut persepsi pedagang. Kelimabelas factor ini adalah Komitmen konsumen, Keluhan Konsumen, Lokasi dan Harga, Faktor yang berasal dari individu konsumen, Penanganan keluhan atas barang yang dijual, Produk, Prestise dan budaya, Tidak dijual di pasar modern, Konsumen belanja sesuai rencana, Jumlah pembelian tidak dibatasi, parkir, Terpengaruh pembicaraan orang lain, terpengaruh keluarga dan Teman, serta kelompok refererence.
§  Terdapat tujuh belas faktor yang dipertimbangkan konsumen untuk memutuskan berbelanja di pasar tradisional menurut persepsi konsumen. Ketujuh belas factor tersebut adalah Keluhan akan kondisi pasar, Produk, Perilaku konsumen, Komitmen konsumen, Kelompok reference, keluhan akan Lorong pasar dan sarana parkir , Tidak dibohongi, Lokasi, Budaya dan kepuasan, Harga, Hidup dan ramai, Jam buka, Penataan barang, Kejelasan harga, berbelanja sambil mencari hiburan, Pendidikan, Pendapatan dan berharap ada fasilitas pembayaran.
§  Pedagang belum sepenuhnya memahami konsumennya. Ini ditunjukkan dengan banyaknya variabel yang membedakan persepsi konsumen dan pedagang mengenai faktor-faktor apa yang menjadi pertimbangan konsumen memutuskan berbelanja di pasar modern.
§  Konsumen cenderung berbelanja di pasar modern karena terdapat kejelasan harga, tidak becek, bersih dan tidak bau, ber AC, aman, Kondisi fisik bangunan bagus, terdapat fasilitas pembayaran, terpengaruh promosi, iklan, berbelanja sambil mencari hiburan, nyaman, prestise, menjual produk yang tidak ada di pasar tradisional serta terpengaruh pendidikan konsumen. Sedangkan konsumen cenderung berbelanja di pasar tradisional karena harga di pasar tradisional bisa ditawar, harganya murah, dilayani langsung serta berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari. (1992) Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Penerbit Alfabeta, Bandung.
Basu Swasta (1995), Pengantar Bisnis Modern, Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Datin (2007), Keunggulan hanya pada harga, dalam http://disperindagjabar.go.id/, 20 Mei 2007.
Engel, James F.; Blackwell, Roger D. & Miniard, Paul W. (1994) Perilaku Konsumen. terjemahan FX Budiyanto. Binarupa Aksara, Jakarta.
Ibnu Khajar (2005), Analisis beberapa faktor yang mempengararuhi Perilaku konsumen Pasar klewer di Kotamadya Surakarta, dalam JRBI Vol 1 no 1, Januari 2005
Kompas, Pedagang Keluhkan Kondisi Fisik Pasar Tradisional di Kota Seamarang,
Mei 2002
Kompas, Menjaga kesetiaan Konsumen pasar tradisional, Juli 2007
Kotler, Philip & Armstrong, Garry. (1997) Dasar-Dasar Pemasaran. Jilid 1. Alih bahasa Alexander Sindoro. Prenhallindo, Jakarta.
Loudon, David L & Albert Della Bitta . (1993) Consumer Behavior. Fourth Edition. McGraw-Hill ,Inc.
Malhotra, Naresh K. (1996) Marketing Research : An Applied Orientation. second
edition.
Nasir Aziz (2001), Image pasar Swalayan dan Pengaruhnya terhadap Pembelian Produk Convenience di Kota Banda Aceh, dalam Jurnal Manajemen dan Bisnis, Vol 3 No 2, Mei 2001
Nurmansyah Lubis (2005), Keberadaan Hypermarket Menghambat Perkembangan Pasar Tradisional, dalam www.pks-jakarta.or.id, 18 November 2005
Pergeseran Preferensi Konsumen, siapkah kita?, dalam aji@mediacorpradio.com, 22 Juni 2006
Rhenald Kasali (2007), Ritel Tradisional vs Ritel Modern, dalam Kompas 23 Maret 2007
Sekaran, Uma. (1992) Research Methods For Business : A Skill-Building Approach, Second Edition. Jhon Willey & Son Inc, New York.
Suara Merdeka, Pasar Tradisional terdesak Mal, Selasa 5 April 2005
Suara Merdeka, Hipermarket Mengancam Pasar Tradisional, 25 Februari 2005
Subandi (2005), Pasar tradisional perlu Regulasi, dalam Suara Merdeka, 6 Desember 2005

SUMBER 
http://sitoruscitra92.blogspot.com/2012/12/jurnal-perilaku-konsumen.html

Rabu, 24 April 2013

KESIMPULAN DARI IDENTITAS NASIONAL

     Selama ini masyarakat Bangsa Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Bangsa Indonesia, Identitas berarti :  
  • Ciri-ciri, 
  • Sifat-sifat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan suatu keunikkan serta membedakannya dengan hal-hal yang lain.

Kesimpulan dari  Identitas Nasional itu sendiri adalah : 
     Sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatu padukan dan diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk ditekankan pada diri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas.
    
    Sekilas kata-kata diatas memang membuat tanda tanya besar dalam memaknainya. Beribu-ribu kemungkinan yang terus melintas dibenak pikiran kita untuk menjawab sebuah pertanyaan yang membahas tentang identitas nasional. Kendatipun, dalam hidup keseharian yang mencakup suatu negara berdaulat, Indonesia sendiri sudah menganggap bahwa dirinya memiliki identitas nasional. Identitas nasional merupakan pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Unsur-unsur dari identitas nasional adalah :
  • Suku Bangsa: gol sosial (askriptif : asal lhr), golongan,umur. 
  • Agama : sistem keyakinan dan kepercayaan. 
  • Kebudayaan: pengetahuan manusia sebagai pedoman nilai,moral, das sein das sollen,dlm kehidupan    aktual. 
  • Bahasa : Bahasa Melayu-penghubung (linguafranca).                                                                   
Faktor-faktor kelahiran identitas nasional adalah Faktor-faktor yang mendukung kelahiran identitas nasional bangsa Indonesia meliputi faktor subjektif dan factor objektif, Faktor primer, mencakup etnisitas, territorial, bahasa, agama, dan yang sejenisnya. Faktor pendorong, meliputi pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan pembanguanan lainnya dalam kehidupan bernegara. Faktor penarik, mencakup modifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional. Faktor reaktif, pada dasarnya tercakup dalam proses pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia yang telah berkembang dari masa sebelum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.


SUMBER :
http://isbdbyisma1cmatematika.blogspot.com/2011/03/makalah-pkn-ttg-identitas-nasional.html
http://prince-mienu.blogspot.com/2010/01/identitas-nasional.html
 

Sabtu, 20 Oktober 2012

JURNAL EKONOMI KOPERASI

Jurnal Internasional

Sosial-ekonomi penentu akses koperasi ‘ke layanan dari Bank Pembangunan Nigeria Koperasi Pertanian dan Pedesaan

Festus Agbo and Sand Chidebelu
Abstrak
Makalah ini menilai sejauh mana koperasi memiliki akses ke dana intervensi khusus yang dikelola oleh Bank Pertanian Nigeria Koperasi Dan Pembangunan Desa (NACRDB) Ltd Penelitian ini dilakukan antara bulan Maret dan September 2005, di enam negara yang dipilih secara acak, salah satu dari masing-masing dari enam zona geopolitik di mana Nigeria telah dibagi. Negara sampel termasuk Enugu (timur-selatan). Rivers (selatan-selatan), Ondo (barat selatan), Benue (Tengah Utara), Bauchi (timur utara) dan Kano (barat utara). Enam puluh koperasi juga secara acak dipilih untuk studi dari setiap negara tertutup, tiga puluh dari mereka dengan akses dan tiga puluh tanpa akses ke dana intervensi, pada seluruh masyarakat koperasi 360 dipelajari. Alat statistik yang digunakan untuk analisis data termasuk persentase, sarana dan jangkauan. Uji Levene untuk kesetaraan sarana yang digunakan untuk menentukan apakah sarana dua kategori koperasi (mereka yang memiliki akses dan mereka yang tidak) secara statistik berbeda.Peringkat Likert skala digunakan untuk menentukan persepsi masyarakat koperasi ‘dari efek pedoman lembaga operasional di akses. Tes Levene untuk kesetaraan berarti menunjukkan bahwa perbedaan antara alat dua kategori koperasi secara statistik signifikan pada tingkat probabilitas 5%. Peringkat skala Likert menegaskan bahwa pedoman operasional NACRDB seperti persyaratan kredit yang minimal, jenis tanaman tumbuh, jumlah pinjaman yang disetujui, dan asuransi mempengaruhi akses ke dana intervensi. Dianjurkan bahwa promotor koperasi harus membayar perhatian yang memadai dengan karakteristik sosial ekonomi masyarakat koperasi sehingga dipromosikan dan pedoman kredit dari NACRDB Ltd.

PENDAHULUAN

Pengenalan usaha koperasi modern ke Nigeria tanggal kembali ke 1935 tahun setelah penerimaan, oleh Administrasi Kolonial, Laporan Mr CF Strickland pada prospek koperasi di Nigeria. Setelah tujuh puluh empat tahun beroperasi, gerakan koperasi di Nigeria dapat membanggakan keanggotaan lebih dari lima juta orang tersebar di lebih dari tiga puluh enam ribu koperasi (FMA & RD, 2002). Sayangnya, usaha koperasi di Nigeria masih bersaing dengan masalah yang telah menghambat perkembangan mereka. Salah satu masalah tersebut adalah kurangnya akses terhadap kredit investasi.
Pemerintah telah melakukan intervensi beberapa kali untuk menyuntikkan kredit ke sektor sub-koperasi ekonomi. Salah satu intervensi perubahan, pada tahun 1976, dari Nigeria Pertanian Bank Ltd ke Nigeria Pertanian dan Koperasi Bank Ltd sehingga memberikan perhatian khusus untuk kegiatan koperasi (CBN Laporan Tahunan, 1976; Ukpanya, 1997). Selanjutnya, pada tahun 2000, pemerintah berganti nama menjadi Koperasi Pertanian Dan Nigeria Bank (NACB) Ltd menjadi Pertanian Nigeria Koperasi Dan Pedesaan Development Bank (NACRDB) Ltd untuk mencerminkan sifat pedesaan kegiatan koperasi di Nigeria (FGN Anggaran, 2000) . Pada tahun 2005 Pemerintah Federal berdomisili jumlah N 50 miliar dengan NACRDB Ltd untuk memberikan pinjaman kepada koperasi dan organisasi tani lainnya dengan suku bunga konsesi. Sebuah studi baru-baru ini pola pencairan Ndana 50 miliar intervensi menunjukkan bahwa lebih dari 75% dari dana pergi ke petani swasta dan petani lainnya ‘organisasi yang tidak koperasi (Onyeagocha, 2008).
Beberapa faktor telah bertanggung jawab atas akses masyarakat miskin koperasi untuk dana intervensi berdomisili dengan Ltd NACRDB Sosial-ekonomi karakteristik koperasi telah dipilih sebagai kendala utama untuk akses koperasi ‘untuk jasa lembaga yang didirikan untuk membantu mereka di Nigeria (Ijere, 1977; Okafor, 1979). Seperti karakteristik sosio-ekonomi termasuk ukuran keanggotaan, basis aset koperasi dan partisipasi anggota. Sebagai bagian dari kesimpulan dari studi tentang penggunaan masyarakat perempuan koperasi untuk transfer teknologi dari singkong Agbo (2000), menekankan bahwa karakteristik sosio-ekonomi koperasi yang menghalangi akses koperasi terhadap sumber daya pembangunan meliputi jenis kelamin anggota koperasi, usia masyarakat koperasi, dan jarak masyarakat koperasi harus menutupi untuk sampai ke lokasi penyedia jasa. Botomley (1989) menambah daftar seperti karakteristik sosio-ekonomi untuk memasukkan jenis koperasi, sektor ekonomi di mana intervensi koperasi diimplementasikan, tingkat pendidikan fungsional dan koperasi yang dimiliki oleh anggota koperasi, serta kualitas tersedia koperasi manajemen. Dalam studi sendiri, Ambruster (2001) diisolasi, antara lain, sistem pengiriman layanan yang dibutuhkan oleh koperasi, proses yang digunakan untuk menentukan sektor yang perlu intervensi, dan modus seleksi penerima manfaat sebagai faktor yang paling penting yang mempengaruhi koperasi ‘akses ke sumber daya pembangunan.
Untuk memberikan bukti empiris mengenai apa yang sebenarnya bertanggung jawab atas akses masyarakat miskin terhadap N 50 miliar kredit yang dimediasi oleh Ltd NACRDB, penelitian ini menjadi perlu. Selain itu, sejak NACRDB Ltd masih tetap pengembangan lembaga keuangan pemerintah yang paling penting yang dimiliki di mana jasa keuangan resmi diberikan kepada koperasi petani, koperasi penyelenggara juga bisa mengambil pelajaran dari hasil penelitian untuk memperbaiki mereka sosio-ekonomi karakteristik yang telah menghambat akses ke layanan dari NACRDB Ltd

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang akses koperasi ditentukan ‘ke N dana 50 miliar intervensi dikelola oleh NACRDB Ltd
Tujuan khusus meliputi:
  • · untuk mengidentifikasi karakteristik sosio-ekonomi masyarakat koperasi yang diterapkan untuk pinjaman dari dana intervensi;
  • · untuk menentukan apakah karakteristik sosio-ekonomi mempengaruhi akses masyarakat koperasi untuk dana intervensi;
  • · untuk menentukan bagaimana koperasi dirasakan pedoman operasional NACRDB Ltd, di bawah dana intervensi;
  • · menggunakan hasil penelitian untuk membuat rekomendasi tentang bagaimana untuk meningkatkan akses masyarakat koperasi jasa NACRDB Ltd

ANALISIS

Bahan dan metode

Penelitian ini meliputi kegiatan NACRDB Ltd (di bawah program intervensi).Nigeria terdiri dari 36 Negara dan Wilayah Federal Ibu, Abuja. Untuk kenyamanan administrasi negara komponen dibagi menjadi enam zona, yaitu zona Tenggara (5 negara), Selatan – Selatan zona (6 negara), zona Southwest (6 negara), zona Timur Laut (6 negara), Northwest zona (7 negara), dan zona Tengah Utara (6 negara). Wilayah Federal Ibu berada dalam zona Tengah Utara.
Pemilihan sampel dilakukan secara bertahap. Pada tahap I, satu negara yang dipilih secara acak dari masing-masing zona memberikan total 6 negara. Pada tahap II, daftar koperasi yang diterapkan untuk fasilitas kredit di bawah skema intervensi dari berbagai cabang Ltd NACRDB di masing-masing dari enam negara yang dipilih diperoleh. Dari daftar ini, tiga puluh koperasi yang aplikasinya berhasil dipilih secara acak di setiap negara. Selain itu, satu set tiga puluh koperasi yang aplikasinya gagal juga dipilih secara acak. Ini memberikan total 180 koperasi (30×6) yang diperoleh kredit dari bank dan satu set 180 koperasi yang gagal untuk mendapatkan pinjaman dari bank.
kuesioner terstruktur yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang koperasi 360 dipelajari. Kuesioner terstruktur berusaha untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik sosio-ekonomi dari koperasi termasuk usia koperasi, ukuran keanggotaan, jenis kelamin anggota, pencapaian pendidikan anggota, ukuran kepemilikan, ukuran aset, sejarah memegang kredit dan lain-lain. Asisten peneliti terlatih digunakan untuk mengumpulkan data.
Data dikumpulkan dari markas Ltd NACRDB di Kaduna, cabang-cabangnya di negara-negara sampel serta dari masyarakat koperasi dipilih untuk penelitian.

Sosial Ekonomi karakteristik koperasi

Karakteristik sosial ekonomi mempelajari usia termasuk masyarakat koperasi, ukuran keanggotaan, jenis kelamin anggota, jumlah tahun bersekolah anggota, memegang aset dari koperasi, kepemilikan saham dari koperasi, ukuran kewajiban masyarakat dan jarak dari masyarakat untuk cabang terdekat dari NACRDB Ltd

Tabel 1: deskripsi statistik dari karakteristik sosial-ekonomi masyarakat koperasi yang diteliti
Sumber: Dihitung dari data lapangan, 2005
Tabel 1 di atas menyajikan deskripsi statistik dari karakteristik sosial-ekonomi masyarakat koperasi yang diteliti. Nilai rata-rata untuk usia koperasi dengan akses (10) lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki akses yang 12. Implikasi dari ini adalah bahwa koperasi dengan akses dalam survei muda. Koperasi dengan akses memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dari 31 untuk ukuran keanggotaan daripada mereka yang tidak memiliki akses dengan nilai rata-rata 23. Kedua koperasi dengan akses dan mereka yang tidak memiliki akses anggota laki-laki lebih tinggi daripada anggota perempuan karena keduanya telah berarti nilai keanggotaan laki-laki 24 dan 23 masing-masing sebagai terhadap nilai mean untuk keanggotaan perempuan dari 19 dan 21 masing-masing.
Anggota koperasi dengan akses menghabiskan tahun lagi di sekolah dengan skor rata-rata 13 tahun sebagai terhadap skor rata-rata 11 tahun untuk koperasi tanpa akses. Dalam bidang saham, memegang aset, ukuran kewajiban koperasi dengan akses mencetak nilai rata-rata yang lebih tinggi. Untuk jarak ke cabang terdekat dari koperasi NACRDB dengan akses mencetak nilai rata-rata yang lebih rendah dari 47km sebagai terhadap 62km untuk koperasi tanpa akses.
koperasi umum dengan akses yang relatif lebih muda, memiliki ukuran keanggotaan yang lebih tinggi dengan keanggotaan yang lebih berpendidikan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa koperasi bahwa dana intervensi diakses memiliki nilai saham yang lebih tinggi, lebih banyak aset dan kewajiban lagi, mereka juga ditemukan terletak dekat dengan NACRDB Ltd
Alasan untuk nilai usia yang lebih rendah mungkin bahwa koperasi yang terdaftar dalam menanggapi skema kredit NACRDB tertentu. Baring pengaruh lain diharapkan bahwa koperasi tua dengan track record kinerja akan memiliki akses yang lebih. Ukuran keanggotaan adalah tanda kekuatan dan mungkin menawarkan kesempatan lebih besar untuk memobilisasi modal saham lebih. Koperasi dengan ukuran keanggotaan yang lebih tinggi berdiri kesempatan yang lebih baik menikmati skala ekonomi. Hal ini mungkin telah meningkatkan peluang masyarakat koperasi di bawah survei untuk mengakses layanan kredit dari bank.
Ukuran kewajiban masyarakat koperasi adalah indeks sejarah kredit masyarakat. Koperasi yang telah meminjam di masa lalu dengan catatan pembayaran yang baik berdiri kesempatan yang lebih baik dari pinjaman lagi. Ini bisa menjadi kasus koperasi dengan akses dalam studi.
Jarak ke NACRDB memiliki beberapa implikasi sosial ekonomi. Misalnya, jarak mempengaruhi biaya transportasi ke agen. Hal ini juga mungkin memiliki implikasi untuk kesadaran akan keberadaan dan pelayanan dari badan. Hal ini sangat mungkin bahwa kelompok-kelompok yang terletak lebih dekat ke agen mungkin lebih sadar akan jasa dari badan. Hal ini mungkin telah dihitung dalam mendukung koperasi yang memiliki akses.
tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga dapat mendukung kesadaran yang lebih tinggi dari program pemerintah dan bagaimana untuk mengakses program tersebut. Implikasinya adalah bahwa koperasi dengan anggota lebih tercerahkan berdiri kesempatan yang lebih baik untuk mengakses program NACRDB.
Untuk memastikan apakah ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata untuk koperasi dengan akses dan mereka yang tidak, tes Levene untuk kesetaraan berarti dilakukan. Hasil tes dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2: Uji Levene untuk kesetaraan sarana karakteristik sosial-ekonomi koperasi dengan akses ke layanan dari NACRDB dan mereka yang tidak
Sumber: Dihitung dari Data Bidang, 2005
* = Signifikan pada tingkat probabilitas 0,05
AGCOOP = Usia koperasi, Memsize = ukuran Keanggotaan
MEMGENDER = Gender anggota, ASSHOLD = Koperasi masyarakat tingkat aset holding, EDULEVEL = Tingkat pendidikan anggota dan DISAGENCY = Jarak dari NACRDB Ltd
Hasil dari uji Levene untuk kesetaraan sarana (Tabel 2) menunjukkan bahwa perbedaan antara sarana tujuh karakteristik sosial ekonomi yang terdaftar secara statistik signifikan pada tingkat probabilitas 0,05.Perbedaan rata-rata, kecuali untuk usia dan jarak dari badan, semua positif ditandatangani menunjukkan nilai yang lebih besar bagi masyarakat kooperatif dengan akses ke layanan dari NACRDB Ltd Implikasinya bisa jadi bahwa ini lebih tinggi nilai-nilai kemungkinan lebih koperasi harus mengakses jasa bank. Perbedaan rata-rata untuk usia dan jarak dari badan yang negatif ditandatangani mungkin menunjukkan bahwa koperasi yang lebih muda itu dan dekat itu untuk NACRDB peluang yang lebih baik untuk mengakses layanan dari bank.

Pedoman untuk operasional Nacrdb Ltd

The N 50 miliar berdomisili dengan NACRDB untuk on-pinjaman kepada masyarakat petani koperasi merupakan bagian dari Pemerintah Federal Initiative khusus Presiden Nigeria pada produksi singkong dan ekspor.Bagian dari tujuan inisiatif termasuk perluasan pengolahan primer dan pemanfaatan singkong, identifikasi dan pengembangan peluang pasar baru untuk substitusi impor dan ekspor, stimulasi investasi sektor swasta dalam peningkatan pembentukan ekspor singkong berorientasi industri. Itu, oleh karena itu, diharapkan koperasi yang akan meminjam dari N dana 50 miliar intervensi akan terlibat dalam satu aspek atau yang lain dari inisiatif produksi ubi kayu.
pedoman kredit yang dikeluarkan oleh Ltd NACRDB untuk koperasi mengharapkan untuk meminjam dari dana intervensi disertakan (1) membuka rekening dengan NACRDB Ltd, (2) melakukan minimal deposit account ini setidaknya sepertiga dari jumlah yang akan dipinjam , (3) tingkat bunga 15%, (4) kelompok pembentukan dan (5) asuransi atas usaha kelompok koperasi.
Untuk memastikan bagaimana pedoman operasional Ltd NACRDB mempengaruhi akses koperasi terhadap layanan kredit dari bank skala Likert Peringkat persepsi anggota ‘dilakukan dengan menggunakan presiden dan sekretaris umum dari masyarakat yang terkena dampak koperasi sebagai responden. Likert skala 5-point diadopsi. Skala 5-point itu dinilai sebagai efek yang sangat serius = 5 efek, Serius = 4, Ragu-ragu = 3, Tidak efek yang serius = 2, efek yang sangat serius Tidak = 1.
skor rata-rata responden berdasarkan skala 5-point adalah 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 15/5 = 3,0. Menggunakan skala interval 0,05, batas titik cut-off atas adalah 3 + 0,05 = 3.05, batas bawah adalah 3 – 0,05 = 2,95. Atas dasar batas, setiap nilai rata-rata di bawah 2,95 (misalnya MS <2,95) diambil sebagai “efek Tidak serius”, yang antara 2,95 dan 3,05 dianggap dari “efek serius” (yaitu 2,95 ≤ MS ≤ 3.05), sedangkan setiap skor rata-rata yang lebih besar dari atau sama dengan 3.05 (yaitu ≥ 3.05) dianggap dari “efek yang sangat serius.”
Tabel 3 menyajikan ringkasan distribusi rata-rata persepsi bagaimana pedoman operasional NACRDB Ltd mempengaruhi akses masyarakat koperasi ke N dana 50 miliar intervensi.
Persyaratan setoran minimum dimaksudkan untuk melayani sebagai jaminan yang ditawarkan oleh kelompok koperasi untuk jumlah pinjaman yang diminta. Para penerima pinjaman dirasakan persyaratan ini sebagai tidak ada dampak yang serius pada akses mereka. Namun, non-penerima manfaat yang dirasakan persyaratan ini sebagai hambatan yang sangat serius bagi akses mereka. Persyaratan ini mungkin telah diberitahu oleh tingginya dilaporkan default dalam pengembalian dana pinjaman oleh koperasi dalam program sebelumnya.
Kedua penerima manfaat dan non-penerima manfaat yang dirasakan suku bunga pada tidak berpengaruh serius pada akses mereka terhadap dana ini. Hal ini mungkin karena tingkat bunga yang dibebankan jauh lebih rendah dari tingkat bunga komersial akan antara 25% dan 30%.Pemerintah disubsidi kredit dari dana ini intervensi untuk memastikan akses oleh koperasi.
Waktu pelepasan kredit itu bukan bagian dari pedoman namun kedua penerima manfaat dan non-penerima sepakat bahwa itu mempengaruhi akses mereka. Diamati bahwa birokrasi yang terjadi dalam proses aplikasi pinjaman menyebabkan rilis akhir dari pinjaman luar musim tanam untuk tanaman utama dari program intervensi.
Kedua penerima manfaat dan non-penerima manfaat yang dirasakan jumlah pinjaman yang bergantung pada deposito koperasi mampu membuat sebagai kendala. Untuk penerima itu adalah kendala sejauh bahwa mereka akan ingin meminjam sejumlah yang lebih tinggi jika mereka mampu deposit yang lebih tinggi. Untuk non-penerima manfaat persyaratan ini adalah salah satu alasan pun yang menghalangi mereka akses. Selain langit-langit resmi ditempatkan di luar yang koperasi tidak akan meminjam dari dana tersebut terlepas dari kemampuan untuk meningkatkan lebih tinggi setoran awal.
Pembentukan Kelompok ini dianggap tidak kendala oleh salah satu kelompok. Ini mungkin karena mereka sudah dalam kelompok sebelum aplikasi.
Untuk penerima manfaat jenis tanaman tumbuh tidak kendala mungkin karena mereka sudah terlibat dalam produksi ubi kayu tetapi mungkin membutuhkan lebih banyak uang untuk memperluas operasi. Sabuk Singkong tumbuh Nigeria tidak meluas ke bagian utara negara itu. Untuk kelompok petani inisiatif tidak mengambil kepentingan mereka mempertimbangkan dan sampai batas yang membatasi akses mereka untuk produksi singkong.
The perusahaan tertentu dalam produksi singkong penerima manfaat yang terlibat adalah penting. Kelompok-kelompok yang memiliki fasilitas untuk memproduksi singkong dan turunannya untuk ekspor lebih disukai. Non-penerima manfaat yang dirasakan ini sebagai kendala karena kebanyakan dari mereka tidak bisa menghasilkan singkong dalam contoh pertama.
Koperasi masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan dari skema diminta untuk mengambil asuransi untuk operasi mereka. Karena sulitnya mendapatkan layanan asuransi untuk kegiatan pertanian di Nigeria, kedua kelompok dianggap persyaratan ini sebagai kendala pada akses mereka.
Tabel 3: Distribusi Rata-Rata efek pedoman NACRDB Ltd operasional pada akses koperasi ‘untuk layanan kredit bank.
* Singkatan dari efek tidak serius (NSE)
Sumber: Dihitung dari data lapangan, 2005.
Singkatan ** efek yang serius (SE)
*** Stand untuk efek yang sangat serius (VSE)

Kesimpulan dan recommandations

Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik sosial-ekonomi koperasi mempengaruhi akses mereka terhadap layanan dari Pertanian Nigeria Bank Koperasi Dan Pembangunan Pedesaan Ltd Penelitian mengangkat masalah mendasar dalam pembentukan koperasi membutuhkan promotor koperasi untuk membayar perhatian khusus pada karakteristik sosial ekonomi seperti Ukuran keanggotaan, ukuran kepemilikan saham modal, aset holding, tingkat pendidikan anggota dan lain-lain, karena memiliki efek yang mendasar pada kinerja koperasi. NACRDB Ltd menggunakan pedoman operasional yang dianggap telah memberikan kontribusi terhadap kurangnya akses oleh koperasi.
Berdasarkan temuan dari penelitian rekomendasi berikut telah dibuat:
  • · Ada kebutuhan untuk kampanye kesadaran nasional koperasi menekankan pentingnya membentuk koperasi dengan karakteristik sosial-ekonomi yang tepat untuk memastikan bahwa koperasi tersebut mendapatkan keuntungan dari jasa lembaga pembangunan diciptakan untuk melayani mereka.
  • · Lembaga pengembangan koperasi harus berlokasi cukup dekat untuk koperasi yang mereka layani karena jarak ditemukan telah mempengaruhi akses masyarakat koperasi dalam penelitian ini. Dalam studi ini koperasi lebih muda ditemukan memiliki lebih banyak akses ke layanan bank dibandingkan yang lebih tua.
  • · Lembaga pengembangan koperasi sehingga perlu memperhatikan cukup untuk koperasi tua dan sukses dalam penyebaran mereka bantuan kepada koperasi. Ini akan mengatasi masalah pembentukan masyarakat koperasi darurat yang dirancang untuk tunai pada skema pemerintahan baru. Masyarakat darurat seperti koperasi telah ditemukan akan semakin melemah segera setelah mereka gagal mendapatkan bantuan yang diinginkan.
  • · The Pertanian Nigeria Koperasi dan Pembangunan Pedesaan Bank (NACRDB) Ltd perlu bermain-main dengan pedoman kredit untuk memastikan akses yang lebih luas dengan jangkauan yang lebih luas dari masyarakat koperasi tidak peduli apa bagian dari negara mereka berada.

SUMBER

Agbo, F. U. (2000), Increasing the output of cassava through women cooperatives, Nigerian Journal of Cooperative Studies 2(1), pp. 24-38.
Ajakaiye, M. B. (1989), Banking industry and the development of agriculture: An assessment and future prospects. The CBN Bullion 13(1), pp. 50-59.
Ambruster, P. (2001), Cooperative banks in Europe: Values and practices to promote development. IRU Courier (3), pp. 10-13.
Avery, R. O. (1981), Structuring the analysis of discrete data with econometric applications, England Cambridge University Press, pp. 25-30.
Bottomley, T. (1989). Farmer-centred enterprises for agricultural development. England, Plunkett Foundation, pp. 41-53.
Central Bank of Nigeria (CBN, 1976), Annual Report, Abuja.
Federal Ministry of Agriculture and Rural Development (FMARD, 2002),Cooperative Policy for Nigeria, Abuja, Government Printer.
Federal Government of Nigeria (FGN, 2000), Annual Budget, Abuja, Budget Office.
Ijere, M. O. (1977), Modernising Nigerian cooperatives, Lagos, Fred Atoki Publishing Company Ltd., pp. 15-20.
Nigerian Agricultural Cooperative And Rural Development Bank (NACRDB, 2004). Annual Report, Kaduna, NACRDB Headquarters.
Okafor, F. O. (1979), Socioeconomic criteria for evaluating cooperative efficiency in Nigeria, Review of International Cooperation 72(4), pp. 8-14.
Onyeagocha, S. (2008), Comparative study of the methods and performance of micro-finance institutions in southeastern Nigeria. Unpublished Ph.D thesis, Department of Agricultural Economics, University of Nigeria, Nsukka.